RSS Feed
My Fam
Forum Silaturrahmi

Minggu, 30 Oktober 2022

Kaum Perempuan dalam Diplomasi Kebudayaan Indonesia 1945-1960an Karya Ayu Wulandari

Diplomasi kebudayaan merupakan salah satu agenda diplomasi yang kini digalakkan oleh Kementrian Luar Negeri Indonesia. Jika ditelaah lebih jauh, diplomasi kebudayaan telah dilakukan sejak awal Indonesia merdeka. Dalam upaya diplomasi kebudayaan tersebut, kaum perempuan menjadi aktor penting yang tidak bisa diabaikan. Sayangnya, keberadaan perempuan dalam penulisan sejarah diplomasi kebudayaan secara khusus dan sejarah diplomasi secara umum masih mengalami pengeksklusian. Kajian ini membahas keterlibatan dan peran perempuan dalam diplomasi kebudayaan Indonesia sejak 1945 sampai 1960an. Kajian ini bertujuan untuk menghadirkan peran perempuan dalam penulisan sejarah diplomasi kebudayaan, sehingga penulisan sejarah diplomasi kebudayaan menjadi lebih androgynous. Kajian ini dilakukan dengan metode sejarah, yang hasilnya menunjukkan bahwa selama kurun waktu 1945-1960an, banyak perempuan Indonesia yang terlibat dalam diplomasi kebudayaan.

Selama kurun waktu tersebut, gerakan feminisme yang meluas menjadi faktor penentu pasang surut peran perempuan dalam diplomasi kebudayaan. Gagasan kesetaraan gender yang dibawa oleh feminisme telah mendekonstruksi posisi perempuan sebagai konco wingking dan bekerja di ranah privat. Feminisme pada akhirnya telah mendorong masuknya perempuan ke ranah public seperti diplomasi yang sebelumnya dianggap sebagai pekerjaan laki-laki. Akan tetapi, masuknya perempuan dalam diplomasi kebudayaan juga tidak lepas dari kebijakan politik luar negeri Indonesia yang memang membutuhkan peran perempuan. Bagaimanapun, harus diakui bahwa perempuan menjadi perantara yang handal dalam normalisasi hubungan bilateral atau untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di kancah internasional.

Sejak menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan Indonesia pada masa revolusi, perempuan memegang peranan yang sangat penting. Memang, perempuan dalam diplomasi kebudayaan berbeda dengan para diplomat yang memperjuangkan Indonesia di perundingan. Perempuan dalam diplomasi kebudayaan lebih sering berperan sebagai penari, pelukis, atau memperkenalkan kebudayaan lain dari Indonesia kepada masyarakat negara lain. Akan tetapi, dalam konteks politik luar negeri Indonesia, keberadaan dan peran para perempuan tersebut menjadi sangat sentral. Hal ini disebabkan oleh posisi diplomasi kebudayaan yang seringkali menjadi misi alternatif bagi Indonesia untuk memperjuangkan kepentingannya, menarik dukungan dari negara lain, atau untuk meningkatkan citra baiknya di dunia internasional.

Pada dasarnya, kaum perempuan yang terlibat dalam diplomasi kebudayaan Indonesia era Soekarno didominasi oleh perempuan elit. Perempuan elit yang dimaksud dalam kajian ini adalah publik figur seperti seniman yang telah memiliki prestasi atau dekat dengan Istana seperti Effie Tjoa, Nyonya Bintang Sudibyo atau Ibu Sud, Rima Melati, Titi Puspa, dan tokoh perempuan lainnya. Dengan demikian, publik figur perempuan pada dasarnya turut memberikan kontribusinya dalam sejarah perjalanan diplomasi Indonesia. Meskipun di sisi lain, Presiden Soekarno juga melibatkan pelajar perempuan dan atau rakyat biasa dalam diplomasi kebudayaan, akan tetapi tokoh-tokoh publik lebih sering mendapat tempat dalam media atau sumbersumber sezaman.

Akan tetapi, dari berbagai misi diplomasi kebudayaan Indonesia, tampaknya jarang bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin delegasi. Melalui berbagai misi yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa hampir setiap misi kebudayaan dipimpin oleh laki-laki, baik dari kalangan Pemerintah maupun dari kalangan seniman. Hal ini menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam diplomasi kebudayaan Indonesia pada masa Soekarno baru sampai pada tataran aktor atau pelaksana diplomasi. Dengan kata lain, para perempuan tersebut merupakan agen-agen kebudayaan Indonesia, bukan sebagai pengambil kebijakan dalam rangka diplomasi kebudayaan. Terlepas dari hal itu, kajian di atas menunjukkan bahwa bukan hanya kaum laki-laki yang memiliki peran dalam diplomasi di era Soekarno. Bagaimanapun, kaum perempuan juga telah menorehkan sumbangannya dalam membentuk citra Indonesia sebagai sebuah negara baru dan berdaulat dalam peta politik internasional.

Penulis :

Ina Rosalina 1195010060

Insan Sholeh N 1195010062

Kamilia Fatimah Z 1195010072

Readmore »»

Senin, 04 Juli 2022

Antara Soekarno, Kemerdekaan, dan Sate Ayam

Berbicara dan berdiskusi tentang proses kemerdekaan adalah hal yang umum kalangan masyarakat. proses panjang yang dimulai dengan pembentukan BPUPKI, diasingkannya Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, pembentukan PPKI, hingga saat hari kemerdekaan itu sendiri.

Soekarno dan Mohammad Hatta yang saat itu menjadi tokoh proklamator pun dipilih dan dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Rapublik Indonesia pertama lewat sidang perdana PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945sehari setelah hari kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. proses saat dipilihnya Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden dapat dibilang sangat sederhana dan tidak ada perdebatan yang sengit. 

Lewat sebuah pertanyaan dari pimpinan sidang, "Nah kita sudah bernegara sejak kemarin. Dan sebuah negara memerlukan seorang Presiden. Bagaimana kalau kita memilih Soekarno?", Soekarno pun menjawab "Setuju". sesederhana itu Soekarno dipilih.

Lalu, yang unik dari presiden pertama Indonesia ini adalah pada perintah pertamanya. Dimana biasanya perintah pertama seorang presiden adalah soal perintah tentang keneragaan dan sebagainya. Perintah pertama presiden Soekarno justru adalam kepada seorang pedagang sate. dikutip dari kisah yang diceritakan Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007. 

Indonesia yang baru berumur 1 hari, belum mempunyai mobil dinas kepresidenan, Soekarno pun jalan kaki usai dilantik menjadi presiden.

"Di jalanan aku bertemu dengan tukang sate yang berdagang di kaki lima. Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia memanggil pedagang yang bertelanjang kaki itu dan mengeluarkan perintah pelaksanaannya yang pertama. Sate ayam 50 tusuk!" ujar Soekarno. lanjut dengan memakan sate langsung ditempatnya, dipinggir jalan dengan posisi jongkok,Soekarno pun memakan sate pesannya dengan lahap. 

Begitulah perintah pertama Soekarno yang sekaligus menjadi pesta sederhana usai pelantikannya sebagai presiden selesai menyantap sate, Soekarno pun langsung pulang kerumah dan mengabarkan kepada ibu Fatmawati bahwa ia dipilih dan dilantik sebagai preside. Alih alih senang kegirangan, ibu Fatmawati mejawab info dari soekarno dengan tenang.

"Di malam sebelum bapak meninggal, hanya tinggal kami berdua yang belum tidur. Aku memijitnya untuk mengurangi rasa sakitnya, ketika tiba-tiba beliau berkata 'Aku melihat pertanda secara kebatinan bahwa tidak lama lagi...dalam waktu dekat...anakku akan tinggal di istana yang besar dan putih itu'. Jadi ini tidak mengagetkanku. Tiga bulan yang lalu, Bapak sudah meramalkannya," ujar Fatmawati tenang.

Jalan tuhan Soekarno ditakdirkan sebagai orang yang sangat besar hingga tuhan memberikan tanda kepada orang terdekatnya.


 



Readmore »»