RSS Feed
My Fam

Rabu, 06 Juli 2011

Rahasia hikmah dibalik kematian

Hidup di dunia laksana "permainan",tatkala habis waktu untuk bermain,maka dengan segera kita harus "pulang".Betapapun hebatnya kita waktu bermain dan kendatipun besar peran kita ,jika peluit berakhir maka usai pulalah sepak terjang kita.Begitupun dengan kehidupan ini,bila waktu t'lah berakhir,maka tiada seorangpun yang bisa menolak atau mencegah ia dari kematian.Allah tidak menciptakan hidup seseorang itu abadi.Semuanya akan berujung pada maut atau ajal kita. Kematian merupakan suatu proses yang pasti akan dilalui setiap makhluk hidup. Tapi kapan kematian itu akan dilalui, hanya Allah swt saja yang maha mengetahuinya. Yang jelas, kematian yang dirasakan seseorang tidak sama dengan orang lain. Waktu dan penyebabnya sangat beragam, apalagi keadaan manusia setelah kematian juga bermacam-macam. Begitulah Allah swt berkehendak. Semua yang menimpa manusia di saat-saat kematian, sangat tergantung dari bagaimana manusia tatkala menjalani kehidupannya di dunia
.

Memang kehidupan ini berlangsung tanpa kita sadari dari waktu ke waktu,detik demi detik,sehingga hari berganti, minggu berlalu,bulan terlewatkan,bahkan tahun beruntun meninggalkan kita. Tapi sadarkah kita, bahwa hari-hari yang telah terlewati justru semakin mendekatkan diri kita  kepada kematian, sebagaimana juga yang terjadi dan  berlaku bagi orang lain?
Karena disadari ataupun tidak,sebenarnya kita tengah berada dalam antrian yang sangat panjang dan melelahkan,menanti tiba saat giliran kita,untuk dijemput Sang Malakul Maut,Memasuki gerbang yang dinamakan "Kematian",untuk dipanggil oleh Sang pemilik kita,Allah swt.Sebagaimana ditegaskan didalam Al Qur'an :
كل نفس ذ اءقة االموت ثم الينا ترجعون
 "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu akan dikembalikan." (QS. 29:57).  Tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, setiap orang,semuanya akan mati. Saat ini, kita tidak pernah mendengar kabar ataupun menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Sekalipun demikian, kita sebagai individu maupun sebagai masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja. Bahkan kita dengan arogan sering berfikir bahwa kematian adalah sesuatu hal yang biasa biasa saja terjadi........................

Tapi coba renungkan, seorang bayi yang baru saja membuka kelopak matanya untuk hidup di dunia ini dengan seseorang yang tengah menghadapi sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa dan tak berdaya sedikitpun terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.

Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati. Allah sebagai pemilik dan pencipta kita,telah menjelaskan didalam Al Quran mengenai prilaku,karakter dan sifat sifat  manusia pada umumnya terhadap kematian ini didalam FirmanNya :
                                           قل ان الموت الذى تفرمنه فانه ملقيكم ثم تردون الى علم الغيب والشهاده فينبءكم بما كنتم تعملون
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. 62:8)

Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, manusia biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: apa yang mesti mereka lakukan untuk mencukupi kebutuhan bagi penghidupan mereka,mereka berfikir dimana anak anak  mereka akan sekolah, di perguruan tinggi mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti,acara tv apa yang menarik untuk ditonton bersama anggota keluarga atau hendak kemana tujuan kita untuk berlibur di akhir pekan ini, hal-hal ini yang sering kita anggap penting dari persoalan-persoalan yang kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang sangat tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup sampai esok hari bahkan dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang mungkin sering menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak pernah memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya.Kapankah itu?,dimanakah?saat apakah?dalam keadaan bagaimanakah? Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang  mananti dan menunggu-nunggunya!

Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, maka semua "kenyataan" dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan "hari-hari indah" ketika hidup di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; bercanda,bersosialisasi dengan orang-orang sekitar anda,semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.

Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain "seonggok daging". Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat(jika anda meninggal di rumah sakit)tapi jika anda meninggal di rumah,maka jenazah anda akan dibaringkan diruang depan rumah anda untuk disemayamkan. Dari sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus beberapa lembar kain kafan disertai sedikit kapas,kapur barus dan wewangian, maka anda akan dishalatkan(jika anda orang saleh),setelah itu jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah keranda atau peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan dipekuburan.

Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.

Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.

Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.

Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.

Singkatnya, "onggokkan daging dan tulang" yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda - atau lebih tepatnya, jiwa anda - akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda - tubuh anda - akan menjadi bagian dari tanah.

Lalu hikmah besar apa yang dapat kita ambil dari semua yang terjadi itu?

Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting

Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang "dibungkus" dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.

Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.

Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
                                                                             قل لن ينفعكم الفراران فررتم من الموت اوالقتل واذا لاتمتعون الاقليلا
Katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja." (QS. 33:16)

Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja. (والله اعلم)

Referensi : Harun Yahya 

0 komentar:

Poskan Komentar